JavaScript is required to view this page. Keluarga Ani Yudhoyono Keruk Uang Sebagai Broker

Keluarga Ani Yudhoyono Keruk Uang Sebagai Broker



Ibu Negara Ani Yudhoyono


[SYDNEY] Selain mengungkap intervensi hukum yang dilakukan Presiden Indonesia
Susilo Bambang Yudhyono untuk melindungi Taufik Kiemas dari tuntutan korupsi,
dokumen diplomatik Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan WikiLeaks juga menguak
kegiatan Ibu Negara Kristiani Herawati dan keluarga besarnya yang mencari
keuntungan pribadi dengan bertindak sebagai broker atau fasilitator bagi
pengusaha.

Pada berita berjudul "Tuduhan Korupsi Terhadap Yudhoyono" di halaman satu surat
kabar Australia The Sydney Morning Herarld (SMH), disebut bahwa kedutaan besar
(kedubes) AS di Jakarta, awal 2006, menyampaikan pada Washington bahwa Kristiani
Herawati atau Ani Yudhoyono, semakin gencar mencari keuntungan pribadi dengan
bertindak sebagai broker atau fasilitator bisnis.

Beberapa kontak yang menjadi sumber informasi Kedubes AS juga menyebutkan bahwa
keluarga Ani Yudhoyono telah mulai mendirikan berbagai perusahaan dalam rangka
menggunakan pengaruh keluarga mereka. Dokumen yang dibocorkan WikiLeaks juga
menyebut bahwa setelah terpilih menjadi presiden pada 2004, Yudhoyono
mengintervensi kasus korupsi Kiemas, suami mantan presiden Megawati
Sukarnoputri.

Menurut dokumen rahasia itu, Kiemas menggunakan pengaruh yang masih dimiliki
istrinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P),
partai kedua terbesar setelah Pemilu 2004, untuk memperoleh perlindungan dari
penuntutan untuk apa yang digambarkan diplomat AS sebagai korupsi legendaris
selama istrinya berkuasa sebagai presiden, antara 2001-2004.

Pada Desember 2004, Kedubes AS di Jakarta melaporkan salah satu informan politik
mereka, yaitu T.B Silalahi yang saat ini merupakan salah satu penasehat senior
presiden, mengatakan bahwa Hendarman Supandji yang saat itu menjabat jaksa agung
muda tindak pidana khusus, telah mengumpulkan bukti-bukti kasus korupsi yang
cukup untuk menahan Kiemas.

Menurut Kedubes AS, Silalahi mengatakan bahwa Yudhoyono menginstruksikan pada
Hendarman untuk tidak meneruskan pengusutan kasus terhadap Kiemas. Hasilnya
adalah tidak ada penuntutan apapun yang dilakukan dan Kiemas dengan mulus
berhasil menjadi Ketua MPR. Dokumen rahasia yang dibocorkan WikiLeaks, juga
menyebut Yudhoyono memanfaatkan Kepala BIN Syamsir Siregar untuk memata-matai
sekutu dan musuh politiknya.

Yudhoyono disebut secara personal memerintahkan Siregar melakukan pengawasan
terhadap Yusril Ihza Mahendra yang melakukan perjalanan rahasia ke Singapura
untuk bertemu pengusaha Tiongkok. Yudhoyono juga memerintahkan BIN memata-matai
lawan-lawan politiknya yang menjadi kandidat presiden. Menurut Silalahi,
Yudhoyono hanya membagi laporan BIN paling sensitif dengan dirinya dan
Sekrataris Kabinet Sudi Silalahi. [SMH/B-14]
Category:

0 comments:

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di Blog Ini