JavaScript is required to view this page. Perlukah Tes Keperawanan untuk Masuk Sekolah?

Perlukah Tes Keperawanan untuk Masuk Sekolah?



Rfleksi : Rupanya keperawanan menentukan nilai kesehatan dan kecerdasan para
siswi. Untuk mengetes keperawanan tentu dibutuhkan banyak tenaga, bagi yang
ingin bekerja sebagai ahli tes silahkan melamar, gaji penuh kepuasaan. Bagi
pelamar, silahkan hubungi MUI di kota atau desa tempat kediaman Anda. Pengalaman
tidak dibutuhkan, karena dipakai sistem : Learning by doing". Dirgahanyut NKRI!
hehehe

http://us.health.detik.com/read/2010/09/26/155349/1448810/763/perlukah-tes-keper\
awanan-untuk-masuk-sekolah?l9911

Perlukah Tes Keperawanan untuk Masuk Sekolah?
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Jakarta, Kontroversi mencuat saat seorang anggota DPRD Provinsi Jambi
mewacanakan tes keperawanan sebagai syarat masuk sekolah negeri. Pakar seksologi
menilai hal ini tak hanya melanggar HAM, tapi juga membuktikan ketidaktahuan
soal seksualitas.

"Bukan hanya melanggar HAM, tapi juga sebuah kebodohan. Tidak selalu ada
hubungan antara selaput dara dengan pernah tidaknya seorang gadis berhubungan
seks," ungkap Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, seksolog dari
Universitas Udayana dalam pesan singkat kepada detikHealth, Minggu (26/9/2010).

Seperti dikutip dari Livestrong, hubungan seks memang bukan satu-satunya
penyebab kerusakan pada selaput dara. Berbagai aktivitas fisik seperti bersepeda
serta senam lantai maupun pemasangan tampon bisa membuatnya rusak sekalipun
belum pernah berhubungan badan.

Sebaliknya, perbedaan elastisitas selaput dara pada setiap individu bisa membuat
beberapa orang tetap tampak seperti perawan meski sudah pernah bersetubuh. Pada
jenis selaput dara sangat kuat, penetrasi penis atau bahkan kelahiran bayi
sekalipun tidak akan serta merta menyebabkan kerusakan.

Kini dengan perkembangan teknologi, status keperawanan menjadi semakin sulit
untuk ditentukan hanya berdasarkan kondisi selaput dara. Siapapun yang punya
uang bisa kini melakukan hymenoplasty, yakni prosedur bedah plastik untuk
memperbaiki selaput dara yang sudah rusak.

Yang jelas menurut Prof Wimpie, menjadikan tes keperawanan sebagai syarat untuk
masuk sekolah sangat bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Gagasan
tersebut dinilainya sangat diskriminatif, sebab tes semacam itu tidak bisa
dilakukan pada murid laki-laki.

"Andaikata pernah melakukan hubungan seks sekalipun, mengapa (murid
perempuan-red) tidak boleh masuk sekolah negeri? Apakah laki-laki yang sering
berhubungan seks juga tidak boleh masuk?" tanya Prof Wimpie yang juga seorang
pakar andrologi.

Seperti diberitakan sejumlah media lokal di Jambi, wacana untuk melakukan tes
keperawanan pada calon siswa pertama kali dilontarkan anggota Komisi IV DPRD
Provinsi Jambi, Bambang Bayu Suseno beberapa waktu lalu. Andai disetujui oleh
anggota dewan yang lain, wacana itu rencananya bakal dirumuskan dalam raperda.

Tujuannya bukan untuk menghambat siswi yang sudah tidak perawan untuk masuk
sekolah, melainkan hanya untuk menghadirkan efek malu. Calon siswi yang
kedapatan sudah tidak perawan tetap bisa bersekolah namun terlebih dahulu
mendapat bimbingan dari psikolog.
Category:

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di Blog Ini